BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dua puluh tahun yang lalu Tembok Berlin runtuh dan kaum borjuis di dunia
Barat sangat gembira, bersukacita akan “jatuhnya komunisme”. Setiap tahun kaum
kapitalis merayakannya seperti halnya rejim Orde Baru yang merayakan persitiwa
30 September dengan mesin propaganda mereka. Akan tetapi, dua puluh tahun
kemudian situasi terlihat sangat berbeda dimana kapitalisme memasuki krisisnya
yang paling parah semenjak 1929. Sekarang mayoritas rakyat di bekas Jerman
Timur memilih partai kiri dan mengingat kembali keuntungan dari ekonomi
terencana. Setelah menolak Stalinisme, mereka sekarang telah mencicipi
kapitalisme, dan kesimpulan yang mereka ambil adalah bahwa sosialisme lebih
baik daripada kapitalisme.
Tahun 2009
adalah sebuah tahun yang dipenuhi dengan banyak hari peringatan, termasuk hari
peringatan pembunuhan Luxemburg dan Liebknecht, dibentuknya Komunis
Internasional, dan Komune Austria. Tidak satupun dari peringatan-peringatan ini
yang menemukan gaungnya di pers kapitalis. Tetapi ada satu hari peringatan yang
tidak pernah mereka lupakan: pada tanggal 9 November 1989, perbatasan yang
memisahkan Jerman Barat dan Timur dibuka.
Runtuhnya
Tembok Berlin di dalam sejarah telah menjadi sebuah sinonim untuk runtuhnya
“komunisme”. Dalam 20 tahun semenjak peristiwa besar ini, kita telah
menyaksikan sebuah ofensif ideologi yang luar biasa besar untuk melawan ide-ide
Marxisme dalam skala dunia. Peristiwa ini dijunjung tinggi sebagai bukti
matinya Komunisme, Sosialisme, dan Marxisme. Tidak lama yang lalu, ini bahkan
dianggap sebagai akhir sejarah. Tetapi semenjak itu roda sejarah telah berputar
berkali-kali.
Argumen
bahwa sistem kapitalisme adalah satu-satunya alternatif untuk kemanusiaan telah
terbukti hampa. Kebenaran yang ada sangatlah berbeda. Pada 20 tahun peringatan
runtuhnya Stalinisme, kapitalisme mengalami krisis yang paling dalam semenjak
Depresi Hebat. Jutaan rakyat dihadapi dengan masa depan yang dipenuhi dengan
pengangguran, kemiskinan, pemotongan anggaran sosial, dan penghematan.
Selama
periode ini kampanye anti-komunis ditingkatkan. Alasannya tidaklah sulit untuk
dipahami. Krisis kapitalisme yang mendunia ini telah menyebabkan rakyat secara
umum mempertanyakan “ekonomi pasar”. Ada kebangkitan rasa ketertarikan pada Marxisme,
yang mengkuatirkan kaum borjuis. Kampanye fitnah yang baru ini adalah sebuah
refleksi ketakutan mereka.
2.1 Rumusan masalah
1.
Apa penyebab dibangunya
tembok berlin?
2.
Siapa yang meruntuhkan
tembok berlin?
3.
Bagaimana dampak dari
runtuhnya tembok berlin bagi asia?
2.3 Tujuan
1. Agar
mahasiswa/I mampu menganalisis di bangunnya tembok Berlin.
2. Agar
mahasiswa/I mengetahui dampak dari runtuhnya tembok Berlin.
3. Sebagai
tugas yang diberikan oleh bapak dosen Alwansyah, S.Pd, pada mata kuliah Sejarah Dunia Kontenporer.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Jerman
Sebagai akibat kekalahan perang, jerman diduduki oleh uni soviet dan
amerika serikat bersama Negara-negara sekutu. selama bertahun-tahun sebagai
akibat pertentangan ideologis, tidak tercapai persetujuan antara uni soviet dan
amerika serikat mengenai pembentukan negara jerman yang baru, sehingga akhirnya
tampil dua negara, yaitu republik federal jerman tanggal 8 mei 1949 dan
republik demokratik jerman tanggal 7 oktober 1949.
Walaupun Jerman Barat sudah merupakan negara yang merdeka, tetapi mempunyai pembatasan dalam pelaksanaan kedaulatan, seperti tidak boleh membuat senjata-senjata nuklir, senjata biologis, dan senjata kimia. Jerman Barat diduduki secara militer oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis, sedangkan Jerman Timur oleh Uni Soviet. Akibat dari pertentangan ideologis dan politik antara kedua negara, usaha-usaha untuk menyatukan kembali kedua negara tersebut menjadi gagal sehingga pemisahan kedua negara ini menjadi resmi setelah masing-masingnya diterima menjadi anggota PBB pada tanggal 18 september 1973, selanjutnya kedua negara membuka hubungan resmi tanggal 20 juni 1975.
Runtuhnya tembok Berlin di akhir tahun 1989 dan berakhirnya Perang Dingin merupakan kesempatan bagi Jerman Barat untuk menyatukan kedua negara menjadi satu Jerman pada tanggal 3 oktober 1990. Setelah bergabungnya kembali menjadi satu negara, Jerman selanjutnya hanya diwakili oleh satu negara saja di PBB dan organsasi-organisasi Intenasional lainnya.
2.2 Dampak
Runtuhnya Tembok Berlin
Runtuhnya
Tembok Berlin 23 tahun lalu, yang menandai berakhirnya Perang Dingin dan awal
bubarnya Uni Soviet, telah mengubah geopolitik global. Namun, tidak ada benua
yang lebih diuntungkan daripada Asia. Kebangkitan dramatis ekonominya sejak
1989 telah berlangsung dengan laju dan skala tanpa bandingan dalam sejarah
dunia.
Bagi Asia,
dampak paling penting dari runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet
adalah bergesernya keunggulan kekuatan militer ke keunggulan kekuatan ekonomi
dalam tata hubungan internasional. Memang pertumbuhan ekonomi yang cepat juga
terjadi selama Revolusi Industri dan pasca-Perang Dunia II. Tapi pertumbuhan
ekonomi pasca-Perang Dingin ini telah membawa perubahan global.
Peristiwa
menentukan lainnya adalah pembantaian pengunjuk rasa prodemokrasi di Lapangan
Tiananmen di Beijing. Jika bukan karena berakhirnya Perang Dingin,
negara-negara Barat tidak akan melepaskan Cina dari tanggung jawab pembantaian
itu. Tapi Barat mengambil pendekatan yang pragmatis, tidak mengenakan sanksi
ekonomi, bahkan membantu Cina terintegrasi ke dalam ekonomi global dan
lembaga-lembaga internasional melalui liberalisasi investasi dan perdagangan.
Andaikata Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya mengambil pendekatan berupa
sanksi ekonomi, seperti yang dilakukannya terhadap Kuba dan Burma, ekonomi Cina
tidak bakal berkembang pesat seperti sekarang, sementara negeri itu bakal tetap
tertutup dan tidak stabil.
Keberhasilan
ekonomi Cina yang fenomenal itu--seperti tecermin dalam surplus perdagangannya
yang mengalahkan semua negara di dunia, oleh cadangan devisanya yang paling
besar di dunia, dan oleh tingkat produksi besi bajanya yang tertinggi di
dunia--banyak berutang budi kepada keputusan Barat untuk tidak melanjutkan
sanksi ekonomi setelah terjadinya pembantaian di Tiananmen. Setelah mengalahkan
Jerman sebagai eksportir terbesar di dunia, Cina sekarang sudah siap
mengalahkan Jepang sebagai ekonomi kedua terbesar di dunia.
Kebangkitan
India sebagai raksasa ekonomi juga terkait dengan perkembangan dunia setelah
1989. India terlibat dalam perdagangan barter yang luas dengan Uni Soviet dan
sekutu-sekutu komunisnya di Eropa Timur. Ketika blok negara-negara komunis ini
bubar, India terpaksa membayar barang-barang yang diimpornya dengan uang tunai.
Akibatnya, cadangan devisa India merosot dengan cepat, yang memicu krisis
keuangan yang parah pada 1991 dan pada gilirannya memaksa India melakukan
reformasi ekonomi yang radikal yang meletakkan dasar bagi kebangkitan
ekonominya.
Lebih luas
lagi, bangkrutnya Marxisme pada 1989 memungkinkan negara-negara di Asia,
termasuk Cina dan India, mengambil kebijakan kapitalis secara terang-terangan.
Walaupun kebangkitan ekonomi Cina sudah mulai di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping,
baru setelah 1989 Partai Komunis Cina dapat dengan terang-terangan meletakkan
penciptaan kekayaan di atas ideologi. Contoh yang diberikan Cina ini punya
pengaruh yang konstruktif atas partai-partai komunis lainnya yang masih
bertahan di Asia dan di negara-negara lainnya di dunia.
Secara
geopolitik, keberhasilan pasca-1989 ini melintas jauh di luar batas
negara-negara Barat. Bangkrutnya Uni Soviet dengan tiba-tiba merupakan berkah
strategis bagi negara-negara di Asia, karena ia berarti lenyapnya ancaman dari
suatu imperium yang menakutkan dan terbukanya jalan bagi Cina untuk dengan
cepat memajukan kepentingannya secara global. Surutnya pengaruh Rusia
pasca-1989 berarti kebangkitan bagi Cina.
Bagi India,
berakhirnya Perang Dingin telah memicu krisis kebijakan luar negeri akibat
terputusnya hubungan dengan mitranya yang paling andal, yaitu Uni Soviet. Tapi,
seperti dengan krisis keuangan pada 1991, India mampu bangkit dengan kebijakan
luar negeri yang baru--kebijakan yang melepaskan diri dari tradisi yang terlalu
idealistik dan merangkul realisme dan pragmatisme yang lebih luas. India,
pasca-Perang Dingin, mulai membangun kemitraan strategis yang saling
menguntungkan dengan pemain-pemain utama di Asia dan bagian-bagian dunia
lainnya. "Kemitraan strategis global" dengan Amerika Serikat--suatu
ciri khas dekade ini--dimungkinkan oleh pergeseran pemikiran kebijakan India
pasca-1989.
Sudah tentu,
tidak semua perkembangan pasca-1989 itu positif. Misalnya fenomena
negara-negara yang mengalami kegagalan telah membawa dampak kepada keamanan
negara-negara Asia sebagai akibat langsung dari berakhirnya Perang Dingin.
Ketika Perang Dingin sedang hangat-hangatnya, kedua blok yang ada saat itu
bersaing menopang negara-negara yang lemah. Tapi, dengan lenyapnya Uni Soviet,
Amerika Serikat tidak lagi merasa perlu meneruskan permainan ini.
Akibatnya,
negara-yang gagal atau yang mengalami disfungsi tiba-tiba muncul pada 1990-an,
mengancam keamanan regional dan internasional berupa perompak transnasional
(Somalia) atau teroris transnasional (Pakistan dan Afganistan), atau berupa
pembangkangan terhadap norma-norma global (Korea Utara dan Iran). Asia lebih
banyak menderita dari kebangkitan terorisme internasional ini daripada
kawasan-kawasan lainnya di dunia.
Lagi pula,
dua dekade setelah runtuhnya Tembok Berlin, penyebaran demokrasi telah
tersendat. Antara 1988 dan 1990, sementara Perang Dingin mulai berakhir,
gelombang protes prodemokrasi melanda negara-negara jauh dari Eropa Timur,
menggulingkan diktator-diktator di negara-negara yang berbeda satu sama lain,
seperti Indonesia, Korea Selatan, Taiwan, dan Cile. Setelah bubarnya Uni
Soviet, bahkan Rusia sendiri muncul sebagai calon kuat reformasi demokrasi.
Namun,
walaupun digulingkannya rezim-rezim totaliter atau otokratis ini telah
menggeser keseimbangan kekuatan global yang menguntungkan kekuatan demokrasi,
tidak semua gerakan prodemokrasi berhasil. Dan terjadinya "revolusi
warna" di negara-negara seperti Ukraina cuma menambah kekhawatiran di
antara rezim-rezim yang masih bertahan, yang mendorong mereka untuk mengambil
langkah-langkah melawan upaya demokratisasi yang diilhami dari luar.
Terlepas
dari mundurnya demokrasi di Rusia, Cina--yang sekarang merupakan otokrasi paling
tua di dunia--menunjukkan, ketika otoriterisme sudah mengakar, pasar barang dan
jasa bisa menghambat laju pasar gagasan politik. Dua puluh tahun setelah
ambruknya komunisme, kapitalisme otoriter telah muncul sebagai penantang utama
upaya penyebaran nilai-nilai demokratis di dunia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Apa yang membedakan antara Jerman
Barat dan Timur 23 tahun lalu? Ada dua. Pertama, Tembok Berlin; Kedua,
komunisme. Dua-duanya runtuh dimulai dari 9 November 1989, 23 tahun silam.Pada
tanggal 9 November 1989, perbatasan yang memisahkan Jerman Barat dan Timur
dibuka. 9 November 1989 adalah tanggal bersejarah bagi rakyat Jerman di mana
tembok Berlin yang memisahkan kedua Jerman diruntuhkan. Selama 28 tahun, ribuan
keluarga dan sahabat terpisahkan oleh tembok kokoh sepanjang 43 kilometer.
Tembok Berlin pertama kali dibangun pada 15 Agustus 1961 sebagai pemisah
permanen antara Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) dengan Republik
Federal Jerman (Jerman Barat). Runtuhnya Tembok Berlin di dalam sejarah telah
menjadi sebuah sinonim untuk runtuhnya “komunisme”. Dalam 23 tahun semenjak
peristiwa besar ini, kita telah menyaksikan sebuah ofensif ideologi yang luar
biasa besar untuk melawan ide-ide Marxisme dalam skala dunia. Peristiwa ini
dijunjung tinggi sebagai bukti matinya Komunisme, Sosialisme, dan Marxisme.
Tidak lama yang lalu, ini bahkan dianggap sebagai akhir sejarah. Tetapi
semenjak itu roda sejarah telah berputar berkali-kali. Jerman Barat yang
kapitalis dan Jerman Timur yang komunis bergabung pada 3 Oktober 1990 menyusul
runtuhnya Tembok Berlin. Pada hari Minggu Jerman juga menyerahkan pembayaran
terakkhir utangnya yang berasal dari reparasi yang dikenakan setelah Perang
Dunia I. Jatuhnya Tembok Berlin tepat 23 tahun lalu memicu berakhirnya
komunisme di Eropa Timur. Tembok merupakan lambang Perang Dingin antara Amerika
Serikat dan Uni Sovyet. Tapi sekaligus merupakan garis pemisah yang memisahkan
keluarga dan nyaris menutup kemungkinan bepergian dari timur ke barat. Tanggal
9 November 1989, hari runtuhnya Tembok Berlin, menandai titik puncak dari
perkembangan yang mirip revolusi. Peran utama dalam proses itu dipegang oleh
para warga Jerman Timur: Ada sebagian yang berusaha keras untuk meninggalkan
negara yang menolak memberikan kebebasan kepada mereka untuk bepergian, dan
yang memasuki areal kedutaan besar RFJ di negara tetangga untuk memaksakan
keberangkatan itu. Ada pula sebagian warga yang menyuarakan dengan keras
keinginan untuk tetap tinggal di RDJ. Namun kelompok yang terakhir menuntut
langkah reformasi mendasar yang tidak dapat diambil oleh rezim yang berkuasa
tanpa mengawali kejatuhannya sendiri. Dalam jangka waktu beberapa bulan saja,
desakan ganda itu membuat RDJ berantakan seperti rumah di atas pasir, biarpun
tindakan pengamanannya sangat ketat. Berkat perombakan itu terbuka jalan untuk
mengatasi pembelahan dan mencapai reunifikasi Jerman pada tanggal 3 Oktober
1990. Sejak tanggal 3 Oktober 1990 Jerman bersatu kembali. Revolusi damai yang
dilancarkan oleh penduduk RDJ telah meruntuhkan tembok yang membelah Jerman ke
dalam bagian Timur dan Barat. Bagi proses reunifikasi tidak ada contoh dalam
sejarah. Proses itu berupa upaya keras suatu bangsa yang tidak dapat
dirampungkan dalam jangka waktu beberapa tahun. Dua dasawarsa setelah
reunifikasi, pembaruan dasar perekonomian dan kemasyarakatan di negara bagian
di timur cukup maju. Namun tetap ada tantangan besar yang perlu diatasi bersama
oleh penduduk di seluruh Jerman.
3.2 Kritik dan Saran
Penulis
mengharapkan kepada para pembaca agar dapat memberikan kritikan serta saran
yang bersifat membangun dari makalah ini, agar kelak dapat menjadi perbaikan
bagi penulis dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya, dan penulis berharap
semoga makalah ini berguna bagi para pembacanya dan dapat dijadikan referensi
dalam pembuatan makalah yang sejenis.
DAFTAR PUSTAKA
Diterjemahkan
oleh Ted Sprague dari “The fall of the Berlin Wall: 20 years later”, Alan Woods tanggal 9
November 1989